Pada saat banyak pihak mulai melihat arti pentingnya penelaahan yang serius dan sistemastis terhadap arus informasi antara negara, salah satu kondisi yang paling awal terlihat adalah hadirnya berbagai sistem pers yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Menurut tipologi klasik, sistem pers di dunia ini dibagi dalam 4 sistem pers besar.
Berdasarkan hal di atas, maka pertanyaan mayornya adalah Bagaimana sistem pers yang berbeda-beda di berbagai negara belahan dunia? Dan pertanyaan minornya Bagaimana pembagian sistem pers di berbagai negara? Bagaimana macam-macam sistem pers? Bagaimana yang membedakan cara pandang tentang kebebasan pers?
Orang melihat bahwa karena sistem pers satu negara dengan negara lain berbeda-beda, sementara arus informasi lintas negara tidak dapat dihindari, maka perbenturan sistem pers antar negara pada ahkirnya juga tidak dapat dihindari. Misalnya sistem pers liberal dengan sistem pers otoriter. Pers di negara liberal merasa sangat sah, katakanlah, mengkritik kebijakan pemerintah di negara otoriter. Sementara pemerintah dan pers di negara otoriter yang dikritik menganggap itu sebagai pelanggaran terhadap kode etik pers.
Teori yang digunakan adalah diformulasikan who says what in which channel with what effect. Teori ini menitik beratkan pada empat hal penting dalam komunikasi. Empat hal penting tersebut adalah siapa, apa, channel dan efek atau dalam arti lain sender, message, media dan pengaruh. (Harold D Lasswell,1948)
Bahwa dalam penekatan klasik, terdapat 4 sistem pers besar: sistem pers otoriterian, libertarian, tanggung jawab, dan soviet komunis. Namun dalam perkembangan penelaahan perbandingan sistem pers kemudian, kategorisasi tersebut dirasakan terlampau sederhana, sehingga lahirlah serangkaian modifikasi yang menyertakan sejumlah varian lain dari model dasar tersebut.
Menurut kaum otoritarian manusia tidak akan mencapai pontesi yang sepenuhnya apabila berdiri sendiri sebagai individu. Bertolak belakang dengan kaum otoritarian, filsuf-filsuf libertarian berpendapat bahwa manusia adalah insan yang rasional dan memiliki tujuan sendiri. Manusia mampu mengatur hidupnya sendiri dan tahu tentang apa yang menjadi tujuan hidupnya. Sistem pers tanggung jawab sosial merupakan pengembangan dari sistem libertarian. Bahwa pers tidak saja memiliki kebebasan dalam mengungkapkan suatu fakta sosial namun harus pula bertanggung jawab terhadap masyarakat mengenai apa yang ia ungkapkan. Kaum komunis memandang kebebasan pers hanya akan memperkuat dominasi kaum borjuasi di atas masyarakat awam. (Armando, 2007).
Landasan yang membedakan keempat sistem tersebut adalah filsafat masing-masing sistem dalam memandang: manusia, masyarakat, negara, dan kebenaran. Perbedaan filsafat tersebut mengakibatkan lahirnya perbedaan dalam hal penanganan kebebasan arus informasi.
Keyword: otoriterian, libertarian, tanggung jawab, soviet komunis arus informasi, sistem pers.
Berdasarkan hal di atas, maka pertanyaan mayornya adalah Bagaimana sistem pers yang berbeda-beda di berbagai negara belahan dunia? Dan pertanyaan minornya Bagaimana pembagian sistem pers di berbagai negara? Bagaimana macam-macam sistem pers? Bagaimana yang membedakan cara pandang tentang kebebasan pers?
Orang melihat bahwa karena sistem pers satu negara dengan negara lain berbeda-beda, sementara arus informasi lintas negara tidak dapat dihindari, maka perbenturan sistem pers antar negara pada ahkirnya juga tidak dapat dihindari. Misalnya sistem pers liberal dengan sistem pers otoriter. Pers di negara liberal merasa sangat sah, katakanlah, mengkritik kebijakan pemerintah di negara otoriter. Sementara pemerintah dan pers di negara otoriter yang dikritik menganggap itu sebagai pelanggaran terhadap kode etik pers.
Teori yang digunakan adalah diformulasikan who says what in which channel with what effect. Teori ini menitik beratkan pada empat hal penting dalam komunikasi. Empat hal penting tersebut adalah siapa, apa, channel dan efek atau dalam arti lain sender, message, media dan pengaruh. (Harold D Lasswell,1948)
Bahwa dalam penekatan klasik, terdapat 4 sistem pers besar: sistem pers otoriterian, libertarian, tanggung jawab, dan soviet komunis. Namun dalam perkembangan penelaahan perbandingan sistem pers kemudian, kategorisasi tersebut dirasakan terlampau sederhana, sehingga lahirlah serangkaian modifikasi yang menyertakan sejumlah varian lain dari model dasar tersebut.
Menurut kaum otoritarian manusia tidak akan mencapai pontesi yang sepenuhnya apabila berdiri sendiri sebagai individu. Bertolak belakang dengan kaum otoritarian, filsuf-filsuf libertarian berpendapat bahwa manusia adalah insan yang rasional dan memiliki tujuan sendiri. Manusia mampu mengatur hidupnya sendiri dan tahu tentang apa yang menjadi tujuan hidupnya. Sistem pers tanggung jawab sosial merupakan pengembangan dari sistem libertarian. Bahwa pers tidak saja memiliki kebebasan dalam mengungkapkan suatu fakta sosial namun harus pula bertanggung jawab terhadap masyarakat mengenai apa yang ia ungkapkan. Kaum komunis memandang kebebasan pers hanya akan memperkuat dominasi kaum borjuasi di atas masyarakat awam. (Armando, 2007).
Landasan yang membedakan keempat sistem tersebut adalah filsafat masing-masing sistem dalam memandang: manusia, masyarakat, negara, dan kebenaran. Perbedaan filsafat tersebut mengakibatkan lahirnya perbedaan dalam hal penanganan kebebasan arus informasi.
Keyword: otoriterian, libertarian, tanggung jawab, soviet komunis arus informasi, sistem pers.
